CARITA
28. Masa jaya sistem kolonial.
Pergerakan nasional (1870-an – 1930-an)
Ø
Imperialisme
baru
Sekitar tahun 1870, kegiatan
orang-orang Belanda di Indonesia mulai berubah. Orang-rang belnda mulai
memperluas wilayah kekuasaan mereka sampai meliputi wilayah Republik Indonesia sekarang
(kecuali Timor Timur).
Ø
Luasnya
penjajahan
Sampai tahun1870, luas wilayah
kekuasaan Belanda belum banyak bertambah ketimbang yang ada pada masa VOC.
Walaupun mennguasai hampir seluruh wilayah di Indonesia tetapi, tetap saja ada
wilayahh-wilayah yang sepenuhnya Belanda tidak menguasainya secara penuh
seperti Aceh, Tapanuli dan Irian.
Ø
Pola
penjajahan
Walaupun hampir seluruh wilayah
di Indonesia sudah dikuasai oleh Belanda tetapi, ada beberapa daerah yang masih
menjalankan pemerintahannya sendiri tanpa adanya acampur tangan dari Belanda.
Tetapi, penguasa itu selalu didampingi oleh pegawai Belanda.
Ø
Kegiatan
Belanda
System tanam paksa yang
diberlakukan Belanda di Indonesia dihapuskan diganti dengan system ekonomi
liberal. Itu artinya negera Belnda tidak menguasai sendiri kehidupan ekonomi
tetapi, membuka kesempatan kepada pengusaha-pengusaha swasta yang berkebangsaan
Belanda.
Ø
Ethische
Politiek
Beberapa tokoh di Belanda
menyatakan, bahwa tanam paksa telah
mengisap darah petani Jawa, dan bahwa Belanda wajib membayar kembali utang itu.
Garis kebijakan disebut “Ethische Politiek”
(ethisch = moral, susila). Para penganut garis kebijakan itu menghendaki juga
suapaya orang-orang Indonesia dibembing ke tingkat yang lebih tinggi dalam
segala bidang kehidupan tetapi, bukan bertujuan untuk memerdekakan Indonesia.
Ø
Pergerakan
nasional
Pergerakan nasional dalam arti
yang sebernya timbul sekitar 1910. Walaupun sebelum tahun itu ada perlawanan
terhadap Belanda tetapi sifatnya masih sendiri-sendiri (bersifat kedaerahan)
dan jiwai oleh keyakinan agama. Pergerakan nasional bareu terjadi setelah adanya
imperialis Belnda yang diciptakan oleh Hindia Belanda sebagai wadah kesatuan,
maka tiadanya imperialis Belnda yang diciptakan oleh Hindia Belanda sebagai
wadah kesatuan, maka tiadanya imperialis Belnda yang diciptakan oleh Hindia
Belanda sebagai wadah kesatuan, maka tiadanya imperialis Belnda yang diciptakan
oleh Hindia Belanda sebagai wadah kesatuan, maka tiadanya imperialis Belnda
yang diciptakan oleh Hindia Belanda sebagai wadah kesatuan, maka timbulah
pergerakan nasional yang bertolak dari wadah kesatuan itu.
Ø
Sikap
pemerintah terhadap Zending dan Misi
Sikap pemerintah Belanda atas
kerja Zending dan Misi Sangat senang sehingga rela memberi subsidi untuk
pembangunan mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit dalam rangka
meningkatkan taraf kehidupan rakyat Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena
beberapa petinggi dari zending dan Misi berasal dari warga gereja, sehingga
bisa dikatakan keadaan Indonesia jauh lebih baik ketimbang sebelum tahun 1870.
Ø
Sikap
dasar tetap sama
Meskipun demikian, pada dasarnya
sikap pemerintah Hindia Belanda terhadap Zending dan Misi tetap sama seperti
dalam abad ke-19 yaitu mereka harus tetap melayani kepentingan serta mengikuti
kebijakan pemerintah, sekalipun mereka diberikan kebebasan bergerak lebih
besar.
Ø
Zinding/Misi
atau politik
Zending dan Misi berada di tengah
dunia Indonesia yang penuh dengan pertentangan dan pergolakan. Dengan munculnya
pergerakan nasional. Masalah yang mereka hadapi bertambah rumit. Disatu pihak
harus membela pemerintah Belanda tetapi dipihak lain dan pihak lain harus
menghadapi warga gereja yang menentang dan mengancam pemerintah untuk menuntuk
kemerdekaan.
29. Gereja dan teologi
di negeri Belanda dalam abad ke-19 dan ke-20
Sepanjang abad ke-19 dan ke-20,
dalam Gereja Herformd terdapat berbagai aliran, dengan pola teologi dan
kerohanian yang berlain-lainan.
1.
Golongan
tradisonal
Golongan ini
ingin memeilihara tradisi abad ke-16 dan ke-17. Diantara mereka ada yang menafsirkan
Pietisme abad ke-18, ada yang berpegang pada ajaran Calvin dan sebagainya.
Golongan tradisional, berpegang pada ajaran mengenai Allah Tritunggal dan
mengenai Kristus Anak Allah. Mereka mengaku bahwa manusia, karena dilumpuhkan
oleh dosa turunan, tak sanggup melakukan hal baik apapun di hadapan Allah.
Sengsara manusia itu dapat diselamatkan hanya oleh darah Kristus Sang Penebus.
2.
Golongan
Injili
Golongan
tradisonal tidak berhasil memulihkan keadaan zaman dahulu dalam Gereja Hervormd.
Munculah golongan yang lain yaitu golongan Evangelis (golongan Injili). Mereka
menjadikan Kristus sebagai pusat teologi. Tetapi mereka menolak Juruselamat
yang mengorbankan diri-Nya untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah dan
mengagap itu sebagai kepercayaan yang kolot. Gologan ini mengalami masa jaya
antara 1830-1870.
3.
Golongan
modern
Sesudah tahun
1860, kritik terhadap tradisi bertambah tajam. Timbulah teologi modern atau
bliberal. Teologi ini berdasarkan penelitian kritis terhadap Alkitab dan
filsafat modern. Golongan ini menyatakan bahwa, antara agama Kristen dan
agama-agama lain tidak ada perbedaan asasi, hanya perbedaan tingkat.
4.
Golongan
etis
Sekitar abad
ke-19 muncul teologi yang memilki arti besar bagi pekabaran Injil di Indonesia,
yaitu teologi etis. Golongan ini menghormati tradisi ortodoks tetapi tidak
sependapat. Bagi penganut teologi etis, kebenaran harus dinyatakan dalam
peribadi Kristen perseorangan.
Benang merah teologi
abad ke-19
Dalam aliran-aliran teologi yang bertika terus ituterdapat
juga unsure bersama, yaitu perhatian mereka terhadap manusia yang saleh,
terhadap orang percaya. Meskipun caranya berbeda-beda, tetapi teologi
evangelis, teologi etis, teologi modern, semuanya menjadikan manusia beragam
sebagai pusat pemikiran teologinya bahkan golongan ortodokspun demikian.
Perhatian bagi
kebudayaan
Ketiga aliran teologi tersebut memusatkan perhatian kepada
manusia beragama. Dalam ilmu teologi
mereka berusaha menunjukkan bahwa pengembangan kehidupan baru itu merupakan
inti pokok agama keristen. Mereka ingin menanamkan kehidupan yang baru itu
dalam hati masyarakat oranag-orang kafir yang belum mengenal Injil. Walaupun
demikian mereka mengakui bahwa dalam kebudayaan suku-suku itu tersimpan
potensi-potensi yang tinggal dikembangan menjadi kebudayaan-kebudayaan Kristen
pribumi.
Pergeseran sesudah
tahun 1920
Sejak tahun 1920-an, pola teolgi Hervormd dan pengelompokan
kaum teolog mengalami perubahan yang cukup berarti pula bagi pekerjaan zending
di Indonesia. Di Jerman dan Swis timbul teolgi dialektis yang di pelopori oleh
Karl Barth (1886-1968) dkk. Barth mengecam teologi abad ke-19 karena dalam
teolgi itu yang menjadi pusat bukanlah Allah, melainkan manusia yang beragama.
Akibatnya di
Indonesia
Akibat pergeseran itu terasa juga di Indonesia. Sebelum
tahum 1920-an, para zending memusatkan perhatiannya pada pembinaan kehidupan
Kristen dan orang-orang yang telah bertobat. Setelah di biarkan saja tanpa
dibimbing. Tetapi mulai tahun-tahun 1920-an, orang banyak berpikir dan mulai
betindak dengan cara yang lain. Berkat teologi baru, orang mulai menghargai
kenyataan subjektif yaitu gereja, jabatan dan sakramen.
Gerja Hervormd
merosot
Selama abad ke-19 dan ke-20, Gereja Hervormd semakin
merosot jumlah anggotanya. Kemerosotan Gereja Hervormd disebakan dua factor.
Pertama, makin banyak orang Belanda yang pada waktu sensus penduduk mengaku
tidak menganut salaha satu agama. Kedua, keluarnya sebagian kaum ortodoks dari
gereja itu.
Gereja-gereja baru
Dalam abad ke-19 dan ke-20, semakin terpecah golongan
protestan di negeri Belanda, khususnya aliran ortodoks (Calvinis). Di samping
Gereja Hervormd muncul sejumlah gereja-gereja kecil yang semua memakai nama
Gereformeerd untuk menunjukan bahwa dirinya meneruskan tradisi abad ke-16 dan
ke-17. Gereja gereformeerd ini melakukan penginjilan di beberapa wilayah di
Indonesia tahun 1860-1884.
30. Lembaga-lembaga pekabaran Injil
Belanda dan para utusannya
NZG (Nederlandsch
Zendeling Genootschap)
Pada tahun 1797, di kota perdagangan Rotterdam, sekelompok
orang mendirikan Nederlandsch Zendeling Genootschap (ZNG). Mereka didorong oleh
kejadian-kejadi yang terjadi di Inggris dan Di Nedeland yang mendirikan
lembaga-lembaga. Selama tahun-tahun pertama, NZG mengutus sejumlah pekabar Injil
ke afrika Selatan dan India, tetapi sejak tahun 1839, lembaga itu hanya
melayani PI di beberapa wilayah Indonesia.
Dasar NZG
keanggotaan NZG terbuka bagi waga-warga gereja lain. Begitu
pula, di dunia orang-orang kafir para zendeling tidak akan terikat pada ajaran
dan pengakuan iman atau tata gereja dan tata kebaktian yang khas Hervormd. NZG
berpeganmg pada PL dan PB sebagai dasar dari mana diperoleh pengetahuan akan
kebenaran dan sebagai satu-satunya aturan untuk iman dan jalan hidup, serta
pada ke-12 pasal Iman Kristen. Tulisan pada meterai NZG berbunyi Damai oleh
Darah Salib.
Hal ihwal sejarah
NZG
Dalam tahun 1850-an, diantara anggota pengurus ada yang
ikut beralih ke golongan modern. Akibatnya, sebagian kaum tradisional dan kaum
etis meninggalkan NZG dan mendidrikan lembaga-lembaga baru. Tetapi sebagian
tetatp tinggal dalam NZG dan selama tahun 1900-1940 golongan etislah yang
paling menonjol dalam memimpin NZG.
Lembaga-lembaga baru
Lembaga yang pertama yang dididirikan di samping NZG ialah
Doopsgezinde Zendingsvereening (DZV, 1847). DZN merupakan keturunan Anababptis
abad ke-16 yang disebut juga Mennonites. Cirinya: menolak baptisan anak-anak,
sumpah, dinas militer.
Heldring:
zendeling-tukang
NZG awalnya dalam pengutusan hanya bersifat spontan dan
hanya di ajarkan seperluanya saja. Mereka tidak digaji, sehingga itu yang
membuat NZG berkurang. Di tempat kerjanya mereka harus menghidupi diri sendiri
dengan car bercocok tanam, berdagang, bertukang dan sebagainya.
Nasib usaha
Heldering
Selama 10 tahun Heldering bersama panitia tiang kristennya
berhasil mengutus 52 orang ke berbagai wilayah di Indonesia. Tetapi usha ini
tidak berhasil sehing Heldring tidak mengutus tenaga baru lagi.
Ermelo, Nekirchen,
Salatiga-zending
Ada beberapa kelompok lain yang memekai cara kerja yang
sama dengan Heldring. Di jemaat Ermelo terjadi kebangunan rohani tahun 1850.
Mereka memisahkan diri dari gereja Hervormd (1859), tetapi memilki minat pula
dalam penginjilan. Mereka mengutus anggota-anggota untuk penginjilan di
Salatiga. Ermelo tidak sanggup meneruskan pekerjaan itu dan diteruskan oleh
Neukirchener (1884) dan oleh sebuah perhimpunan para pekabaran Injil Zending
Salatiga di Jawa.
GIUZ
Di Batavia (Jakarta), pada abad ke-19 ada orang Kristen
yang bermnat akan usaha pekebaran injil dan jumlahnya sedikit. Tetapi tidak ada
wadah untuk menampung cita-cita mereka, karena GPI melarang menjalankan PI maka
mereka mendirikan , Genootschap van I-en Uitwendige Zending te Batavia (GIUZ,
perhimpunan PI di dalam dan di luar Batavia, 1851). Tujuannya untuk memperlua
Kerajaan Allah di tengah-tengah orang
Kristen (di dalam), kafir dan Islam (di luar).
Java-Comite (1854)
GIUZ mempunyai cabang di negeri Belanda, yaitu Java-Comite
atau Panitia-Jawa (1854). Ini dibetuk untuk menghasilkan uang awalnya, tetapi
kemudian menawarkan diri untuk menjadi lembaga induk.
NZV
Nederladsche Zendingsvereeninging (NZV, Perhimpunan Zending
Belanda) tahun 1858. Yang boleh bekerjasama dengan perhimpunan ini adalah
mereka yang mengakuia Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka dan tidak
mengingkari keilahian-Nya. NZV melakukan PI di penduduk Sunda dan Tianghoa Jawa
Barat 1915.
NGZV (1859)
NZG mendirikan sebuah lembaga Nederlandsche Gereformeerd
Zendingsvereeniging (NGZV). Dasar teologi, menganut aliran srtodoks Calvinis.
Sepanjang hidupnya NGZV mengutus 8 pekerja ke Indonesia.
Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga zending lain yang
didirikan di Negera Belanda untuk diutus
ke bebrapa wilayah di Indonesia dalam PI selama masa 1860-1930. Keanekaragaman
itu mencerminkan keanekaragaman dalam gerja Belanda pada umumnya dan dalam
gereja Hervormd pada khusunya. Meskipun
demikian, pertikaian tajam yang terus-menerus menggangu kehidupan gereja-gereja
di Nederland tidak jadi dibawa ke Indonesia. Disini badan-badan zendingbekerja
bahu-membahu, masing-masing di tempatnya sendiri, sambil menjalin kerja sama
yang semakin erat sama seperti pada masa lalu, dalam periode ini pun,
perbedaan-perbedaan warna yang menonjol di Eropa seakan-akan menjadi luntur di
Indonesia. Dalam arti tertentu, badan-badan zending itu dapat dibandingkan
dengan ordo-ordo kebiaraan dalam Gereja Roma Khatolik, yang masing-masing
mempunyai warna sendiri pula. Dalam beberapa hal koordinasi antara badan
zending malah lebih baik. Soalnya, meskipun ada perbedaan warna, tetapi
akhirnya hampir semua badan zending Protestan Belanda termasuk golongan yang
sama, yaitu golongan zending yang lembaga. Hampir semuanya berorganisai
(sedikit banyak), memakai anggaran belanja, mengutus tenaga sedikit banya
professional yang diberi pendidikan khusus selama bertahun-tahun, yang mendapat
gaji tetap, yang tinggal di tempat yang tetap, yang bekerja melalui
lembaga-lembaga (sekolah, rumah sakit dan sebagainya), yang bersikap semakin
terbuka terhada adat pribumi. Garis pemisah yang lebih tajam ada di antar badan
zendingyang melembaga itu dengan apa yang disebut faith missions. Dengan
kelompok kedua ini jauh lebih sulitlah untuk mencapai kerja sama atau saling
menghormati daerah kerja masing-masing.
31. Gereja dan zending di Jerman dan
Swis
Dalam zending Jerman kita menemukan corak yang serupa
dengan yang terdapat dalam zending sampai yang mengikat diri dengan tradisi
salah satu gereja. Hanya, karena soal hubungan gereja dan Negara, maka di
Jerman tidak ada usaha PIoleh gereja-gereja sendiri, seperti yang sejak tahun
1860-an ada di negeri Belanda. Berbeda dengan zending negeri Belanda, sejarah
lembaga-lembaga di Jerman pada umunya berlangsung tanpa pergolakan (terlepas
dari peristiwa-peristiwa politis). Di Jerman tidak terjadi dramatis seperti
yang di alami ZNG pada tahun1858-1864, karena tidak juga ada pergeseran yang
menonjol secara teologis, seperti yang terdapat dalam zending Belanda sejak
tahun 1909, dikalangan RMG baru berlangsung sesudah 1945. Ikit sertanya
lembaga-lembaga Jerman/Swis dalam karya Zending di Indonesia memperlihatkan
sifat Internasiona usaha PI dan merupakan bantuan besar bagi Belanda yang
sangat terbatas tenaganya.
32. Gereja Protestan di Hindia
Belanda (Indonesia)
Dalam abad ke-19 dan bagian pertama abad ke-20, ikatan antara
gereja (PGI) dan negara sama eratnya seperti pada zaman VOC.tetapi kerugiannya
sama juga. Sama seperti zaman VOC, kegiatan gereja keluar dilumpuhkan. Lagi
pula, lingukngan pelayan-pelayan gereja diresapi suasana kepegawaian. Gereja
merasa betah dalam keadaan itu, sehingga pemerintalah yang mengenjurkan
perubahan. Perubahan itu berhasil dijalankan dengan baik hanya karena sejak
abad ke-19 PGI mengalami pembaruan secar batin yang menyatakan diri dalam
berbagai hal (adanya usaha PI, perbaikan dalam hal pelayanan kepada jemaat
Indonesia, meningkatnya peran anggota jemaat misalnya dalam hal majelis,
peningkatan pendidikan tenaga pribumiperhatian lebih besar bagi nilai pengakuan
iman Kristen). Jemaat-jemaat pribumi di Indonesia Timur dalam abad ke-20 mulai mengikhtiarkan
agar dapat berdiri sendiri. Mula-mula, pemimpin Eropa tidak bersedia untuk
memenuhi keinginan itu, tetapi sekitar tahun 1930 dalam hal ini pun sempat
diambil langkah-langkah menetukan. Proses pelepasan PGI dari Negara dipercepat
oleh peristiwa-peristiwa pada masa perang, dan selesai pada tahun1950. Pada
masa yang sama jugasemakin longgarlah yang tinggal antara gereja-gereja yang
lahir dari PGI.
33. Gereja Maluku sejak tahun 1864
Dalam pasal ini telah kita lihat bagaiman gereja
Protestandi Maluku mengalami perkembangan dari kelompok jemaat di salah satu
pelosok gereja colonial menjadi Gereja Protestan Maluku, yaitu suatu gereja
Indonesia yang berdiri sendiri. Yang memungkinkan perkembangan itu ialah
perubahan lahir dan batin yang telah berlangsung sejak abad ke-19 dan bagian
pertama abad ke-20. Jemaat-jemaat telah menerima penggembalaan yang semakin
intensif oleh korps pelayan yang semakin besar dan berpdidikkan baik. Pun
jemaat-jemaat itu semakin giat menjalankan kehidupan gereja dan semakin sadar
bahwa gereja itu merupakan perkara mereka sendiri. Pada tahun1935, usaha yang
telah dirintis oleh Joseph Kam dan yang dilanjutkan oleh begiru banyak orang
Maluku dan Belanda itu akhirnya sampai ke tujuan, meskipun hasil yang diperoleh
pada waktu itu pun tidak bisa tidak bersifat sementara. Di tenga pergolakan
masa Jepang dan zaman kemerdekaan, perkembangan
ke arah gereja yang dalam organisasi dan pola hidupnya berbeda dari
dunia sekitarnyaitu berjalan terus.
34. Gereja di Minahasa sejak
peneyrahannya kepada PGI
Dalam masa 1875-1935, kekristenan di Minahasa mula-mula
mengalami kemacetan dalam perkembangannya menuju gereja yang berdiri sendiri.
Akan tetapi. Berkat perubahan yang terjadi
di kalangan orang Minahasa sendiri dan dalam lingkungan pimpinan gereja
berkebangsaan Belanda, maka akhirnya tujuan itu tercapai juga. Selama masa itu,
di Minahasa sering terdapat suasana tegang antara emapat unsure penting:
zending, gereja (PGI), pemerintah dan
tokoh-tokoh Minahasa yang sudah aktif di bidang politik dan gereja.
Ketegangan itu membawa banyak kesulitan, tetapi sempat menjadi pulapencetus
pendobrakkan kemacetan tersebut. Yang penting juga ialah: pihak-pihak yang
bersangkutankhususnya zending dan gereja, telah mulai melihat bahwa kemandirian
gereja bukanlah tahap akhir dalam perkembangan orang Kristen Minahasamenuju ke
tingkat kekeristenan yang sempurna, melainkan titik tolak pertumbuhan rohani
dalam mengahadapi tantangan-tantangan dalam lingkungan sendiri. Pada masa
Jepang dan pada tahun 1950-an dan 1960-an, GMIM mengahdapi tantangan baru.
Dalam menjawab tantangan itu, tokoh pendeta Wneas memainkan perenan lain, GMIM
ragu-ragu memilih antara sentralisasi dan desentrilisasi dalam hal urusan
gereja.
35. Gereja di Nusa Tenggara Timur dan
Timor Timur sejak ± 1860-an
Sampai tahun 1900, gereja di Nusa Tenggara Timur tidak
berhasil menembus batas-batas daerah yang sudah berlaku sejak abad ke-18.
Sebaliknya, masa 1910-1940 merupakan masa perluasan, khususnya di pulau-pulau
Timor dan Alor. Perluasan ini merupakan akibat langsung dari meningkatnya semangat PI dalm GPI. Maka
polanya juga sama dengan yang berlaku di daerah-daerah GPI lainnya: baptian
missal, pemisahan sakramen. Begitu pula kejadian berikut yang penting dalam sejarah
gereja di Timor, yaitu tindakan-tidakan yang menjadikan gereja sebagai gereja
mandiri, berkaitan erat dengan perkembangan kesadaran bergereja dalam GPI pada
trahun1930-an. Bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan di Timor, khususnya
dalam tahun1930-an, lebih banyak merupakanhasil kejadian di luar Timor dari
pada hasil kegiatan orang Timor sendiri. Akibatnya, pada tahun1947 GMITberdiri
sendiri secara lahir, tetap belum siap secara batin. Gerakan Roh tahun 1965-1969 merupakan
peristiwa penting dalam kehidupan GMIT, khususnya daerah Timor Tengah Selatan,
tetapi agaknya gerakan itu tidak banyak membantu gereja mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dialaminya.
36. Pekabaran Injil dan Gereja di
Irian Jaya
Perbedaan atara metode Gossner-Heldring dengan metode UZV
merupakan perbedaan tingkat, bukan perbedaan asasi. Bahwa dalam beberapa hal,
sikap terhadap kebudayaan setempat, pembangunan organisasi gereja-perkembangan
di Irian agak terlambat, dibandingkan dengan sejumalah daerah lainnya sama
juga, maka dapat ditanyakan apa yang mnejadi sebabnya: keadaan di lapangan,
yakni taraf kemajuan orang Irian dan jarak-jarak yang jauh, ataupun pola
berpikir dan pola kerja UZV?. Dan yang menghibur ialah: bahwa akhirnya yang
menentukan berhasil tidaknya sesuatu
karya PI bukanlah metode yang dipakai, melainkan kekuatan Injil sendiri
ditamabah kasih dan kesetiakawanan yang dipupuk oleh Injil itu.
37. Pekabaran Injil dan Gereja di
Halmahera dan Buru
Sama seperti di Irian, begitu pula di Halmshera masa sejak
permulaan PI sampai tahun 1930-an dapat di bagi dua. Masa pertama ditandai oleh
metode konsentrasi dan kurang membawa hasil yang nyata. Masa kedua ialah masa
ekspansi. Istilah ekspansi (perluasan, penyebaran) itu menyangkut daerah PI
serta jumlah orang Kristen, akantetapi juga cara besar anatar kedua babak itu,
walaupun perbedaan itu tidak bersifat mutlak. Dalam masa 1942-sekarang,
ekspansi berlangsug terus. Dalam masa ini juga gereja di Halmahera
mandiri. Orang Halmahera mengambil alih
pipinan dalam gerja dari orang Belanda dan Ambon, dan mereka menyelesain tugas mengabarkan
Injil kepada teman sesukunyayang belum menerima Injil. Meskipun demikian, orang
Kristen Halamahera ternyata menyadari, bahw lain gereja, lain masyarakat suku.
Hal ini terbukti dari kebijakan yang
diambil dalam hal nama dan organisasi gereja dan dari sikap terhadap adat.
38. Pekabaran Injil dan gereja-gereja
di daerah Sulawesi Utara (di luar Minahasa)
Sama seprti Minahasa, begitu juga bagian-bagian Sulawesi
Utara lainnya sudah didatangi orang Eropa sejak abad ke-16. Tetapi kurang
mendapat minat dari orang-orang Eropa seperti Minahasa. Sampai akhir abad ke-19
mayoritas orang sangir dan Taulaud masih beragama suku. Sekitar tahun 1850. Di
kepulauan Talaud sudah tidak ada lagi orang Kristen. Di pulau-pulau sangir
tetap ada jemaat-jemaat Kristen, lengkap dengan gedung gerja dan sekolahnya.
Dalam abad ke-18 sudah terdapat ratusan orang Kristen di daerah pesisir Bolaang
Mongondow. Mulai tahun 1889, di Gorontalo terdapat sejumlah orang Kristen
Indonesia , khususnya Minahasa.
39. Pekabaran Injil dan Gereja-gereja
di Sulawesi Tengah
Dalam sejarah usaha PI di Pososmunculah beberapa cirri
khas: perhatian besar terhadap agama dan kebudayaan asli, upaya untuk sejauh
mungkin menerima unsure-unsur kebudayaan asli itu kedalam tat kehidupan yang
baru, kesabaran besar dalam menungu hasil.ciri-ciri ini sejak akhir abad ke-19
terdapat juga di daerah-daerah PI lain, tetapi lebih menonjol di Poso dan
kebudayaannya. Dengan demikian, dalam lingkungan zending Belanda, Sulawesi
Tengah dianggap daerah teladan, dan pasangan tokoh Kruyt dan Adriani menjadi
tokoh yang sangat berpengaruh. Namun dalam beberapa hal pandangan mereka juga
tidak cukup luas, seperti yang mnjadi nyata dalam hal oragnisasi gereja dan
usaha di beidang kesehatan.
40. Pekabaran Injil dan gereja-gereja
di Sulawesi Selatan dan Tenggara
Sampai permulaan abad ke-20, di wilayah Sulselra agama
Kristen merupakan agama sekelompok kecil para pendatang. Pada tahun 1912, GPI
mulai bekerja di daerah itu. Khususnya di bagian utara, tetapi beberapa PI
datang menggantikannya. Lemabag-lembaga itu agak berbeda pola kerjanya. Dalam
hal sikap terhadap adat, pendekatan Gereja GZB dan CGK lebih banyak meneladani
pola gereja-gereja Gereformeerd di
Jateng. Menurut jumlah orang yang masuk Kristen, hasil PI paling besar di Sulawesi
Selatan bagian utara, khususnya di pedalaman, sebab di sana zending masuk
mendahului atau bersamaan waktu dengan agam Islam. Tetapi di pesisir dan di
daerah Sulawesi Tenggara pengaruh Islam sudah terlanjur tertanam.
41. Pekabaran Injil dan Gereja-gereja
di Kalimantan sejak tahun 1860-an
Usaha zending di Kalimantan sudah dimulai agak dini,
kira-kira bersamaan waktu dengan di Jawa serta Sulawesi dan sebelum di
Tapanuli. Harapan zending ialah supaya daerah pedalaman dapat dikeritenakan
seluruhnya, sehingga suku dayak dapat dimasukan dalam satu gereja suku yang
besar, sama seperti yang terjadi dengan orang batak di Sumatra Utara dan dengan
orang-orang Toraja di Sulawesi tengah. Tetapi harapan itu meleset, karena di
Kalimantan tidak sampai terjadi pertobatan secara missal. Maka di Kalimantan
Gereja Kristen tetap merupakan minorits terkecil, yang terbagi atas bebrapa
lembaga gereja.
42, Usaha pekebaran Injil oleh RMG di
Sumatra Utara dan gereja-gereja yang dihasilkan olehnya
Usaha pekabaran Injil di Sumatra utara mula-mula dirintangi
oleh keadaan politik. Pekabar-pekabar Injil pertama terpaksa menetap di pinggir
tanah Batak. Tetapi dibawah pimpinan Nommensen, karya PI menerobos ke jantung
daerah-daerah yang masih murni beragama suku. Dalam perjumapaan dengan sisitem social budaya orang batak,
Nommensen mengembangkan pendekatan menyeluruh yang menghasilkan lembaga-lembaga
gereja-rakyat (gereja-suku). Namun, sejak 1927 kesatuan gereja-suku terpecah.
HKBP dan gereja-gereja asal RMG lainnya menunjukkan cirri-ciri khas yang
membedakannya dari sebagian besar gereja-gereja lain di Indonesia.
43. Pekabaran Injil non RMG dan
gereja-gereja yang tumbuh darinya di Sumatra Utara
Selain oleh RMG, Injil di bawa ke Sumatra NZG dan oleh
Gereja Methodis dari Amerika. Salah satu PT perkebunan yang besar meminta ZNG
agar mengutus seorang pekabar Injil kepada orang Karo supaya mereka ini di
jinakkan dan menaggung seluru biaya. Tetapi karena resesi ekonomi, maka ZNG
membiayai PI di tanah Karo.
Banyak hal sudah dilakaukan usaha selama 50 tahun untuk PI
di tanah Karo dan terbentuklah Gerja Karo, Gereja Khatolik, Gereja Adventis,
Bala Keselamatan, dan Kemah Injili.
44. Pekabaran Injil dan Gereja di
Nias dan pulau-pulau lain lepas Sumatra (1865-sekarang)
Selama 25 tahun pertama (1865-1890), usaha PI di Nias tetap
terbatas pada daerah kekuasaan Belanda di sekitar Gunung Sitoli di pantai
timur. Pada tahun 1890 di Nias telah meningkat menjadi 706 jiwa. Dalam masa 25
tahun berikutnya, usaha PI di Nias maju dengan lebih cepat.
45. Pekabaran Injil dan Gerja di
Jakarta dan di Jawa Barat sejak tahun 1870-an
Di Jawa Barat, Injil dibawa oelh beberapa badan dan orang
perseorangan. Oleh karena itu, dan oleh karena penduduknya yang datang dari
daerah lain maka di daerah tersebut, khususnya DKI Jakarta , terdapat sejumlah
besar gereja Kristen. Dua diantaranya yang dapat dikatakan pribumi, karena
beranggotakan orang yang sudah tinggal di daerah itu turun-temurun, yaitu GKP
dan GKI-Jabar.
46. Pekabaran Injil dan
gereja-gereja di jawa Tengah sejak tahun
1870-an
Di Jawa Tengah, agama Kristen pertama kali dibawa oleh
orang perseorangan berkebangsaan Eropa dan diteruskan oleh orang Jawa sendiri.
Sesuai dengan suasana colonial colonial
abad ke-19, lembaga-lembaga PI dari Eropa menggap perlu menampung dan mengasuh
kelompok-kelompok Kristen Jawa itu. Tiga lembaga yang masuk ke Jateng
masing-masing mewakili dedominasi sendiri: Mennonite, Kongregasional, Calvinis.
Maka berlainan dengan keadaan di Jabar dan Jatim, di dareah Jateng berdiri
tiga, bahkan lima gereja pribumi, disamping jemaat-jemaat para pendatang (HKBP,
GPIB), dan sejumlah gereja lain yang tidak terbatas pada daerah itu, seperti
Pentkosta dan lain-lain
47. Pekabaran Injil dan Gereja di
Jawa timur dan Bali sejak tahun 1870-an
Sampai tahun 1910-an, gereja Kristen di Jawa timurmerupakan
gereja petani (des) yang berada di bawah perwalian zending. Para zending
memandang tugas mereka sebagai karya pendidikan. Tetapi pengarush kebangkitan
nasional, pertambahan jumlah orang Kristen yang pindah ke kota, dan perubahan
dalam pola berpikir para zendeling mengakibatkan perombakan kebijakan zending.
Perhatian lebih banyak diarahkan ke kota-kota dan gereja dinyatakan berdiri
sendiri. Lalu GKJW dan zending bersama-sama mengasuh dan membimbing
jemaat-jemaat Kristen yang telah tumbuh di Bali.
48. Pekabaran Injil dan gereja di
Sumba
Sumba merupakan daerah yang sulit bagi zending disebabkan
factor kesukuan (Sawu-Sumba) dan karena keadaan tidak aman, yang baru berakhir
pada tahun 1912. Di Sumba, hasil PI datang lebih lambat daripada di
daerah-daerah lain yang penduduknya beragama suku. Pun hanya di Sumba perbedaan
paham antara para pendeta zending membawa keperpecahan.
49. Gereja-gereja Pentakosta
Dalam abad ke-20, Indonesia dimasuki penginjil-penginjil
dari Amerika yang membawa tradisi teologi/kerohanian yang berbeda dengan yang
telah datang dari Eropa. Yang mencapai hasil yang paling besar ialah para
penginjil Pentakosta. Mereka pada umunya bekerja di kota-kota dan di
tengah-tegah orang sudah masuk Kristen sebelumnya. Yang diutamakan ialah usaha
penginjilan secara langsung. Jumlah orang Pentakosta di Indonesia sangat besar,
tetapi gereja mereka pecah belah akibat perpecahan yang merajalela antara tahun
1930 dan 1970.
50. Sejarah gereja-gereja dari rumpun
Kemah Suci
Gereja-gereja yang termasuk rumpun Kemah Suci berakhir
dalam gerakan Alliance (persekutuan) yang lahir di Amerika Serikat pada tahun
1880-an. Pemimpinnya bernama A.B.
Simpson yang seorang mantan pendeta Prebiterian. Pada tahun1897, dua kelompok
bergabung menjadi satu yaitu the International
Missionary Alliance dan The Christian
Alliance menjadi The Christian and Missionary Alliance (CAMA) di New York.
Ajaran CAMA dapat disimpulkan dalam emapat asas, yang disebut Injil rangkap
empat yaitu Krsitus Menyelamatkan, Menyucikan, Menyembuhkan , Datang Kembali
sebagai Tuhan. PI yang dilakukan oleh CAMA di Indonesia menggunakan pesawat
terbang tahun 1939. Gereja-gereja yang di dirikan di Indonesia oleh CAMA antara
lain KINGMI Kaltim dan Kalbar (Kalimantan).
51. Sejarah gereja-gereja dari rumpun
Baptis
Aliran Baptis timbul
di Inggris sekitar tahun 1600. Cirri khasnya ialah penolakan terhadap
pembaptisan anak-anak dan terhadap hubungan erat antara gereja dan Negara
seperti yang dianut gereja Khatolik Roma. Pada tahun 1951 Konvensi Baptis
Selatan melakukan PI di Indonesia. KBS berpusat di pulau Jawa. Medirikan
mbeberapa sekolah Teologi.
52. Bala Keselamatan
Bala keselamatan (Salvation Army) didirikan pada tahun 1878
di London oelh William Booth (1829-1912). Pada tahun 1878, organisasi itu
dirombak menjadi The Salvation Army. Pada tahun 1895 dua perwira diutus ke
pulau Jawa. Mereka menetap di Purworejo dan hal ini dianggap menimbulkan
persaingan oleh zending. Mereka membuka tempat penampungan tuna wisma Bugangan
dan koloni Salib Putih di Salatiga. Kini (1984) di Indonesia terdapat 3.500
lebih perwira (opsir, tenaga staf) Bala Keselamatan, dengan 60.000 anggota yang
terbagi atas 4 divisi dan 7 distrik.
53. Gereja Masehi Advent hari Ketujuh
Gereja Advent Hari Ketjuh (Seventh Day Adventist Church)
berakar dalam kebangunan yang berlangsung di Amerika Serikat sekitar tahun
1820. Dalam gerakan ini, unsure eskatologi (penantian kembali kedatangan
Kristus) sangat dipentingkan. Gereja Adventis pertama kali masuk ke Indonesia
pada tahun 1900. Dari Padang, jaran Adventis dibawa ke tanah Batak oleh
Immanuel Siregar, putera orang Batak yang pertama masuk Kristen pada tahun
1861. Kini (1995), anggota (dewasa) Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di
Indonesia berjumlah sekitar 110.000, dalam lebih 900 jemaat.
54. Tinjauan umum atas periode
1860-1942; A. Para zendeling, karya dan kebijaksanaan mereka
Anatara tahun 1860-1942 karya zending meluas menjadi unsur
penting dalam masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, khususnya di luar Jawa.
Usaha zending dalam hal pekabaran Injil , pendidikan, dan lain-lain, bersumber
pada Injil, tetapi di samping itu pula pada pemikiran Barat pada abad ke-19.
Adanya dua sumber itu berdampak terhadap pola pekabaran Injil, kebijakan
zending dalah hal organisasi gereja, dan pandangan zending mengenai gerakan
nasional Indonesia.
55. Tinjauan umum atas periode
1860-1942: B. Orang-orang Kristen Protestan Indonesia
Dalam tahun 1860-an orang Kristen Protestan di
Indonesiaberjumlah sekitar 120.000. Pada tahun 1938 orang yang sudah dibaptis
berjumlah 1.665.771, atau sekitar 25% seluruh pendudk Indonesia. Separuh orang
Kristen Indonesia tinggal di atau berasal dari daerah yang sudah dikristenkan
pada masa VOC, dan bahwa pada waktu itu sepertiga dari orang Kristen Indonesia
termasuk gereja yang lahir dari usaha zending Jerman (RMG). Dalam kekeritenan
Barat pengaruh lingkungan begitu besar, sehingga tidak heran jika di Indonesia
juga memilki pengaruh lingkungan yakni lingkungan Indonesia. Dan karena
lingkungan Indonesia itu berbeda-beda menurtu kelompok dan daeranya, maka
tidaklah mengherankan pula kalau kekeritenan di Indonesia beraneka ragam.
56. Gereja-gereja di Indonesia pada masa Jepang (1942-1945)
Pada permulaan masa Jepang, sebagian besar orang Kristen Indonesia
seduah mengalami kehidupan sebagai gereja mandiri, namun peranan orang Eropa
dalam gereja-gereja itu masih besar sekali. Pada masa perang, tidakan orang
Jepang menghadapkan orang Kristen pada tantangan yang hebat di bidang
kerohanian, kepemimpinan, dan keuangan. Di tengah kemelut itu muncul beberapa
tokoh pemimpin yang memehami serta menjawaab tantangan itu. Kebanyakan
penghantar jemaat dan orang Kristen menerusakan kehidupan jemaat dengan
sebaik-baiknya; mereka tidak menyerah dan tidak mengangkat suara pula. Ada
sejumlah dan orang Kristen lainnya yang meninggal dunia akibat perbuatan
oknum-oknum yang memusuhi Kristen; lebih besar lagi jumlah oarng Kristen
Indonesia dan tenaga zending yang meninggal akibat tindakan Jepang. Selama masa
Jepang, organisasi gerja tidak dapat berjalan, tetapi kehidupan jemaat
berlangsung terus dan kesadaran jemaat bertambah besar.
57. Tinjauan umum: Gereja-gereja di
Indonesia, 1945-sekarang
Setelah Indonesia
merdeka, jumlah gereja bertambah besar dan kekeristenan Indonesia tambah
beraneka ragam. Penyebab pertama adalah retaknya beberapa gereja akibat unsure
kesukuan/kedaerahan atau karena factor lain. Tetapi ada pula penyebab lain,
yang lebih penting , yaitu masuknya atau perluasan pengaruh
denominasi-denominasi jenis kebangunan, khususnya dari Amerika.
Lembaga-lembaga zending dan gereja protestan pada saat
berpisah dengan anak asuh mereka telah menyediakan tata gereja, yang pada
umumnya bersifat presbiterial. Pertama, GPI dan kebanyakan lembaga zending
kurang melatih jemaat-jemaat untuk hidup menurut pola tersebut pada masa
sebelum berdiri sendiri. Kedua, di beberpa daerah masyarakat berpola feodal.
Dengan mudah pola itu meresap ke dalam kehidupan gereja.
58. pendidikan pelayan-pelayan gereja
dan perkembangan ilmu teologi dalam abad ke-19 dan ke-20
Sejarah pendidikan pelayan-pelayan gereja di Indonesia
berlangsung melaluia tiga tahap. Yang pertama, pendidikan dalam lingkungan
rumah seorang zending. Yang kedua, dalam lembaga pendidikan guruatau guru
Injil, yang bersifat sederhana. Yang ketiga, dalam sekolah teologi. Tahap-tahap
ini, yang tidak berlangsung serempak di semua daerah atau gerej, berjalan
sejajar dengan perkembangan di bidang pendidikan di Indonesia dari penyerahan
ngelmu oleh sesorang guru sampai ke didirikannya universitas-universitas. Maka
barulah sesudah tahun 1950 ahli-ahli teologi bangsa Indonesia mulai membangun
ilmu teknologi yang menghadapi persoalan-persoalan yang terdapat dalam
lingkungan gereja dan masyarakat di Indonesia.
59. Gerakan Oikumenis di Indonesia
Sampai sekitar tahun 1850, di Indonesia belum terdapat
gerakan oikumenis, sebab belum ada kepelbagaian gereja. Begitu pelbagai gereja
(lembaga PI) masuk, segera pula muncul upaya untuk mencapai kerja sama dan
saling pengertian. Hingga Perang Dunia ll usaha-usaha itu diprakarsai dan
dilakukan oleh orang Eropa. Mula-mula yang diusahakan hanya kerja sama dan
pendekatan antara perseorangan. Dalam abad ke-20 mulai dipikirkan pula kerja
sama dan kesatuananatara gereja-gereja (badan-badan zending). Orang Indonesia
makin banyak dilibatkan dalam usaha ini dan sejak tahun 1945 gerakan oikumenis
menjadi urusan mereka sendiri. Wadah oikumenis yang utama dalam lingkungan
protestan di Indonesia ialah DGI/PGI. Di samping itu terdapat beberapa badan
yang kehadiran gereja-gereja ini, di samping hubungan dengan GKR, merupakan
tantangan oikumenis yang selama ini belum berhasil dijawab.
60. Orang-orang Kristen di
tengah-tengah masyarakat Indonesia
Dalam mempelajari peranan orang Kristen di dalam masyarakat
Indonesiaselama abad ke-20, hendaknya kita memperhatikan factor-faktor objektif
yang ikut menentukan besar-kecilnya peranan itu. Sekitar tahun 1900 orang
Kristen merupakan 1 persen penduduk Indonesia, pada tahun 1938 naik menjadi
2,5. Orang Kristen ikut dalam pembangunan masyarakat Negara Indonesia. Zending
dan gereja telah membawa modernisasi ke daerah-daerah yang dilayaninya.
Pemerintah tidak mengijinkan PGI mendirikan sekolah-sekolah. Pada tahun 1938,
zending menyelenggarakan sekolah desa (sekolah dasa 3 tahun) 2.584 buah, dengan
jumlah murid 193.311, sekolah standard/vervorlg (sekolah dasar 5 tahun) 237,
dan beberapa sekolah pertukangan. Tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi
juga dalam bidang-bidang lainnya seperti kesehat, orang Kristen Indonesia dan
zending telah berperan besar dalam memajukan masyarakat Indonesia.
61. Gereja Katolik 1860-1900
Pada akhir tahun 1864 ada 23.543 orang katolik. Pada waktu
itu penduduk seluruh Indonesia berjumlah 19.000.000. stasi terbesar ialh
Larantuka dengan 11.200 orang katolik. Untuk melayani yang tersebar luas, ada
12 pastur, 4 bruder dari kongresi Aloysius di Surabaya sejak tahun1862, dan
sekitarv30 suster Ursulin, yang ada di Jakarta sejak tahun 1856. Walaupun
demikian jumlah tenaga ini tidak memadai untuk karya gereja.
Banayak kendala yang di hadapi gereja katolik dalam
melayani warga jemaat, selain di negeri Belanda tetapi juga diladang misi di
tindas oleh pemerintah Belanda. Persebaran agama katolik di wilayah Indonesia
boleh dikatakan mengalami pasang surut sama halnya dengan protestan dalam misi.
Sampai dengan saat ini katolik terbesar di Indonesia masih berada di wilayah
Folores NTT dan selebihnya di daerah-daerah lainnya.
62. Gereja Katolik 1900-1942: umum
Dari tahun 1928-1942 setiap tahun diterbitkan suatu buku
alamat dan statistic mengenai misi katolik di tanah air kita; sejak tahun 1932
diolah oleh Centraal Missie Bureau dengan judul Jaarboekc1932 dan seterusnya.
Pada akhir zaman colonial di Jawa hidup sekitar 80% dari
orang Eropa katolik dan kurang dari 10% katolik pribumi. Pertambahan cepat ini
disebabkan terutama karena sejak sekitar tahun 1900nbanyak orang katolik
Belandadatang ke tanah air sebagai guru, pegawai, karyawan bank, perusahaan, perkebunan
dan sebagainya.
Banyak sekolah-sekolah yang didirikan berbasis katolik yand
dibangun di beberapa wilayah di Indonesia yang dari zaman dulu hingga saat ini
masih ada.
63. Perang dunia II dan penjajahan
Jepang
Pada tanggal 10 Mei 1940 nergeri Belanda diserang Jerman.
Segala hubungan dengan Indonesia putus. Akibatnya tiak ada tenaga baru yang
datang, bahkan beberapa room muda Yesuit dan yang lainnya sedang belajar di
Eropa dan tidak bisa kembali juga karena belum berakhir perang.
Pada tanggal 8 Maret 1942 Hindia Belanda berkapitulasi
dengan Jepang dan mulailah dalam sejarah bangsa Indonesia. Para
misionarispater, bruder, suster-Belanda diinternir di satu daerah
berbulan-bulan bahkan sampai satu tahun sehingga banyak yang meninggal.
Sikap orang Jepang terhadap orang Katolik tidak sama di
mana-mana. Seluruh keruguian yang diderita gereja selama masa Jepang tak bisa
ditaksir. Walaupun demikian umat katolik tetap bertahan dengan jiwa yang
semangat. Setelah kekealahan Jepang membuka babak baru, di mana terjadi
perlawanan dari republic yang fanatic anti-kristen dan terjadi pembunuhan
orang-orang katolik-protestan di berbagai daerah.
64. 1860-1945 Selayang pandang
1. tahun 1901 diterbitkan De Zendingseeuw voor Neder,andsch
Oost-Indie, suatu buku besar dan tebal, karangan S. Coolsma, yang menguraikan
panjang lebar karya zending abad ke-19 di berbagai daerah di Inodnesia. Bagi
misi katolik abad ke-19 baru merupakan permulaan pada skal yang masih kecil.
2. Masing-masing Vikariat atau Prefektur Apostolik dipercayakan
kepada satu tarekat imam oleh paus.
3. Dalam gereja
Katolik tidak ada perbedaan seperti di antara gereja protestan yang memeilihara
orang Kristen Belanda, Indo dan orang
Kristen pribumi warisan VOC di satu pihak, dan pelbagai lembaga zending yang
mewartakan Injil di antara orang pribumi dilain pihak.
4. Umat katolik berkembang lebih dari 12 kali lipat
ganda antara 1900 dan 1941, itu terjai
karena adanya tambahan tenaga-tenaga.
menarik. bisa share kontak (email atau no hp). ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.
BalasHapusTerima kasih.
ropi.dagi@gmail.com