UPACARA KEMATIAN DI PULAU SUMBA (Teologi)
Pulau Sumba adalah pulau yang
terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Sumba dahulu memilki 2
kabupaten yaitu Sumba Timur dan Sumba Barat, tetapi sekarang sudah menjadi 4
kabuten setelah Sumba Barat terjadi pemekaran wilayah menjadi 3 kabupaten yaitu
Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Barat.
Pulau Sumba sangat terkenal
dengan kuda. Kuda Sumba aslinya merupakan kuda pony dan kemudian diberi nama
kuda Sandel atau lengkapnya kuda Sandelwood Pony. Kuda Sandel yang dikembangkan
di Sumba merupakan kuda pacu asli Indonesia. Kuda Sumba merupakan hasil
perkawinan silang kuda poni lokal (grading up) dan kuda arab. Nama
"sandelwood" sendiri diambil dari nama cendana (sandalwood) yang pada
masa lampau pernah menjadi komoditas unggulan dan diekspor daru Sumba dan
pulau-pulau di Nusantara dan ke negara Asia lainnya seperti India dan lain-lain.[1]
Kuda merupakan salah satu hewan yang menjadi ciri khas untuk pulau Sumba dan
merupakan alat transportasi sejak dari zaman dahulu.
Selain itu, Pulau Sumba sangat
terkenal dengan kepercayaan Marapu. Walaupun pada masa sekarang orang Sumba
sudah banyak yang memeluk agama Kristen dan Islam, akan tetapi yang masih
terikat kepada kepercayaan asli juga cukup banyak. Agama warisan kakek moyang
orang Sumba disebut marapu, lengkapnya marapu humba (agama leluhur yang asli).
Mereka mengenal banyak upacara seputar lingkaran hidup, terutama
upacara-upacara yang berkaitan dengan kematian dan kesuburan tanah.[2]
Menurut teman saya Dominggus Lu (pernah ikut Golden Times 2014) ketika saya
telepon 20 April 2017 pukul 22.20 WIB, “Marapu adalah kepercayaan kepada
Sesuatu yang tidak terlihat yang punya kuasa melebihi alam semesta dan mengatur
semua yang ada di dalam dunia ini”. Marapu merupakan aliran kepercayaan yang
dianut oleh masyarakat seluruh Sumba sejak dahulu sebelum Islam masuk dan
Belanda menjajah Pulau Sumba serta menyebarkan agama Kristen.
Suku Sumba memilki sabegitu
banyak upacara adat atau budaya atau tradisi. Tetapi kali ini saya hanya akan
membahas tentang upacara kematian yang ada di Pulau Sumba khususnya yang
terdapat di Kabupaten Sumba Timur. Walaupun wilayah Kabupaten Sumba Timur
daerahnya sangat luas dan memilki 22 kecamatan, tetapi dalam upacara kematian
orang Sumba di berbagai wilayah yang ada di Sumba Timur hampir semuanya memilki
cara yang sama dalam pelaksanaannya. Dahulu masyarakat Sumba pada umunya yang
masih menganut kepercayaan Marapu, ketika ada kematian, baik itu seorang
bangsawan (raja, keluarga kerjaan dan para pembesar) dan kalangan biasa atau
rakyat jelata memilki prosesi yang begitu rumit dalam upacara kematian, dengan
memakan biaya yang banyak (tergantung kesanggupan) dan waktu yang dibutuhkan sampai
berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Tahapan-tahapan Upacara Adat Kematian
Sebagai
contoh upacara kematian yang ada di desa saya sendiri yaitu di desa Lailunggi
yang terdapat di kecamatan Pinupahar kabupaten Sumba Timur. Tahun 1991, ketika
ibu kandung saya meninggal dunia karena sakit penyakit. Ada beberapa proses upacara
kematian yang masih saya ingat sampai hari ini yang pada waktu itu di adakan.
Upacara kematian ini boleh dikatakan sudah tidak mengikuti tradisi yang
diturunkan oleh nenek moyang ( tradisi marapu) yang mengurbankan hewan dan
penguburannya sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, karena semua
penduduk di desa tersebut sudah menganut agama kristen.
1.
Kematian
Dalam kepercayaan Marapu, ketika
seorang raja meninggal dunia tidak hanya hewan (biasanya hewan kerbau) yang dikurbankan
dalam jumlah yang tidak sedikit (15-20an ekor bahkan lebih) tetapi ada juga
manusia yang dikurbankan (biasanya seorang hamba yang sudah mengabdi kepada
raja sejak dari lahir secara turun temurun) dengan tujuan agar raja tersebut
ada yang menemani di Surga dan melayaninya (sekarang hal seperti itu sudah
dilarang oleh pemerintah setempat untuk tidak mengurbankan manusia). Ketika
hamba itu sedang berada di hutan atau dia sedang dalam keadaan sendiri, dia dibunuh
oleh para pengawal raja tanpa di ketahui oleh siapapun, kepalanya dimakamkan bersama
dengan mayat raja.
Upacara kematian di desa saya, ketika
orang-orang di desa saya mengetahui berita tentang kematian ibu saya, maka
dengan cepat berita itu tersebar dari mulut ke mulut, sehingga pada waktu itu
orang yang datang untuk melayat ratusan orang banyaknya (di semua wilayah
Sumba, jika ada yang meninggal pasti satu desa dan dari desa lain turut datang),
karena kekeluargaan dan kekerabatan masyarakat sumba sangat kuat.
2.
Perkabungan
Ketika mayat ibu saya diletakan
di dalam rumah, banyak orang-orang yang datang mengelilingi mayat itu dan
menangis bersama-sama, sesekali mereka bernyanyi lagu kematian dalam bahasa
Sumba, itu dilakukan sampai berhari-hari (7 hari lamanya). Dalam perkabungan
itu, ada hewan-hewan yang di potong untuk di masak agar orang-orang yang datang
bisa makan, setelah mereka makan, menangis dan meratap lagi begitu sampai
pemakaman dilaksanakan.
3.
Persiapan makam
Makam orang sumba itu terbuat
dari batu alam (batu zaman megalitikum) yang digali dan sudah berbentuk ceper
dan berlapis-lapis (batu seperti itu juga terdapat dalam PL dan PB untuk
memakamkan orang-orang Yahudi dan Tuhan Yesus Kristus ketika meninggal). Batu
tersebut diambil dari pegunungan dan di tarik dengan sebuah kayu dan diikat
dengan tali serta ditarik secara berantai (batu ini sangat berat) sampai ke
tempat pemakaman disambil menyanyikan lagu-lagu dalam dialek masyarakat Sumba
Timur. Ketika para kaum wanita berkabung dan meratap, maka yang laki-laki yang
sudah di anggap dewasa mencari batu makam. Batu-batu yang telah diambil, akan
digunakan untuk membentuk makam, bentuk makam masyarakat Sumba seperti meja dan
di depan bagian kepala ada satu batu yang tinggi dan sudah dipahat dengan
ukiran-ukiran berbentuk gambar seperti hewan, alat musik, manusia dan lain
sebagainya (ketika saya masih kecil dulu, naik dan main di atas makam yang
berbentuk meja ini bersama teman-teman).
4.
Pemakaman
Kalau orang Sumba yang menganut
kepercayaan asli Sumba yaitu Marapu, mayat tidak dimakamkan seperti dikubur
(pengecualian seorang raja), tetapi mayat tersebut disimpan bahkan sampai
bertahun-tahun, dilakukan penyembelihan ternak kerbau dan kuda dalam jumlah
besar (tergantung status sosial) sebagai sesaji pengiring penguburan. Upacara
ini terdiri dari dua tahap, pertama jenazah dibungkus dengan kain
berlapis-lapis lalu diletakkan dalam peti kayu dengan diameter 1,50 cm (pada
jaman dahulu tidak menggunakan peti berbahan kayu, melainkan menggunakan kulit
kerbau yang telah dikeringkan).
Jenazah diletakkan dalam posisi
jongkok (seperti posisi janin dalam rahim ibu, yang memiliki makna “Lahir
Baru”) lalu ditempatkan dalam rumah adat sambil menantikan upacara berikutnya.
Jenazah dijaga oleh Papanggang/Ata Ngandi (Hamba Bawaan) yang juga berperan
sebagai mediator dengan sang arwah. Sehari sebelum berakhirnya tahap pertama
diadakan upacara Pahadang yang dipimpin oleh Ratu (Pendeta Marapu). Sebelum
tahap kedua, batu kubur sudah disiapkan dengan ukuran tergantung status sosial.
Batu tersebut harus ditarik dari luar kampung yang diawali dan diakhiri dengan
upacara khusus. Jenazah diusung dan diarak dalam suatu prosesi sambil diiringi
oleh arakan kuda berhias yang ditunggangi oleh hambanya (Ata Ngandi) sampai
ketempat pemakaman jenazah ditempatkan dalam kubur batu megalit. Anda dapat
melihatnya di Kampung Prailiu, Pau dan Praiyawang, serta kampung-kampung
tradisional lainnya.[3]
Dalam pemakaman ibu saya (tidak
seperti tradisi marapu tetapi sudah mengikuti tradisi Kristen walaupun demikian
masih ada beberapa tradisi marapu yang di gunakan) ada iringan-iringan dalam
jumlah besar yang menangis sambil bernyanyi lagu kematian dari rumah duka
sampai ke pemakaman. Prosesi pemakaman ini membutuhkan waktu yang lumayan lama
berjam-jam.
Tanggapan PL atas upacara kematian di Sumba
Timur
Ada
hal-hal yang teologis dimana ketika ada kematian, ada perkabungan yang besar
dan ada nyanyian ratapan berhari-hari seperti ketika Abraham, Sarah dan tokoh
lainnya dalam PL meninggal sehingga upacara kematian di Sumba Timur memilki
kesamaan dengan kisah-kisah di dalam PL. Tetapi ada juga yang tidak teologis
atau tidak sesuai nilai kebenaran dalam
PL yaitu memotong hewan yang banyak dan menjadikan manusia sebagai kurban. Bagi
saya pribadi, walaupun sebagai orang Sumba asli, lebih baik tidak usah memotong
hewan yang begitu banyak hanya untuk acara kematian, lebih baik hewan-hewan
tersebut dapat gunakan untuk orang masih tinggal hidup dan lagi pula ketika seseorang
sudah meninggal tidak ada hubungan lagi dengan orang yang masih hidup (seperti yang
terdapat dalam kisah seorang kaya dan sorang pengemis bernama Lazarus). Apa
lagi dengan mengurbankan manusia, itu sudah tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
Bagi saya pribadi, segala
sesuatu yang terdapat di suatu suku di dunia ini, yaitu upacara-upacara adat
yang diturunkan dari nenek moyang dari generasi ke generasi, merupakan hasil
pemikiran manusia dan apa yang dipikirkan oleh manusia baik adanya tetapi belum
tentu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan (Ams 16: 2 dan Ams 21:2), tetapi ini
yang lebih penting adalah setiap dari hasil pemikiran dari nenek moyang dan
diturunkan dari generasi ke generasi yang bernama adat istiadat itu merupakan
ada campur tangan dari Iblis atau dengan kata lain ada idiologi Iblis yang
ditanamkan dalam pikiran dari nenek moyang. Seperti upacara kematian dari kepercayaan
marupu di masyarakat Sumba yang mengorbankan manusia (Im 18:21).
Komentar
Posting Komentar